KabarIndonesia

Sabtu, 02 Agustus 2008

Apa Kata Megawati Soekarnoputri

TEMPO Interaktif:

"Kita sudah menyatakan perang terhadap penyelundupan, bukan cuma gula tetapi juga penyelundupan kayu, ikan, tambang, manusia, senjata, uang, narkoba dan sebagainya. Ini merupakan kerja besar yang menuntut kerjasama dari berbagai pihak terutama pengaduan masyarakat."

Megawati menjelaskan pada para petani tebu (14/4/2004) di pabrik gula Djatiroto, Lumajang.

======

"KTP itulah yang menyatakan kita sebagai warga Indonesia yang sama. Jangan merasa sebagai orang kerutunan. Saya lihat mereka yang besar di sini sudah lebih bisa berbahasa Jawa. Semoga dengan doa tadi, kita memperoleh kekuatan, keberanian, dan kerendahan hati untuk mewujudkan rekonsiliasi dan kedamaian dalam kehidupan kita, serta memperkuat persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa yang satu dan utuh."

Surat Keterangan Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SKBRI) tidak wajib dimiliki warga keturunan Tionghoa. Penanda sesorang sebagai warga negara Indonesia adalah kartu tanda penduduk (KTP). Dikatakan Megawati dalam acara peringatan enam tahun kerusuhan Mei 1998 (13/5/2004) di jalan Hayam Wuruk Jakarta.

=========

"Pandangan-pandangan tentang pendidikan yang murah bahkan gratis adalah pandangan yang bertentangan dengan kenyataan. Bahkan sebenarnya sangat menyesatkan. Saya kira tidak ada diantara kita yang akan berpikir dua kali untuk mengalokasikan dana yang lebih besar untuk kepentingan generasi masa depan. Sungguh tidak mudah membagi kue anggaran yang sedemikian kecil untuk mendanai banyak kebutuhan."

Presiden Megawati dalam peringatan hari Pendidikan Nasional di SMU 13, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (5/Mei/2004).

======

"Perlu proses belajar lebih matang lagi. Kita sebagai bangsa harus terus belajar. Jadi mereka yang duduk di lembaga legislatif itu haruslah orang-orang yang benar-benar berkualitas dan mampu menghasilkan produk-produk hukum yang berkualitas pula. Siapa yang tidak ingin punya wakil rakyat yang berkualitas. Oleh karena itu siapapun yang mau maju jadi caleg harus mampu melakukan otokritik pada dirinya sendiri, apakah benar mampu menjadi anggota legislatif yang berkualitas dengan segala kemampuan yang ada atau belum. Saya selalu menekankan agar UU yang dibuat bukanlah untuk menyenangkan sekelompok orang dan berlaku sesaat tapi untuk mensejahterakan banyak orang dan berlaku lama."

Presiden Megawati dalam pembukaan Rapat Kerja Daerah Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional wilayah kawasan Indonesia Barat di Pekanbaru, Senin, 8/Maret/2004.

======

"Kalau kita berani memegang lidah, kita akan tahu sumber suara kita datangnya dari lidah yang keluar melalui kerongkongan. Kita renungkan, lidah siapa yang saat ini banyak bersuara dan berkelit mengeruhkan situasi dan kondisi kehidupan bangsa."

Megawati dalam pidato teleconference pada upacara penutupan hari ulang tahun (HUT) ke-28 PDI Perjuangan di Malang, Jawa Timur, 21 Mei 2001.

======

"Kita jelas amat memerlukan kritik. Tetapi, sama perlunya adalah memberikan alternatif solusi dari apa yang dikritik itu, dan bila perlu, bersedia menjadi pelaksana untuk membuktikan kebenaran dan keandalan alternatif yang ditawarkan tadi."

Pada peringatan Hari Pers Nasional di Banjarmasin, 9- Februari-2002.

Pusat Data dan Analisa Tempo

Sabtu, 20 Oktober 2007

Megawati Kritik Ketua Dewan Pengurus PDIP

Selasa, 10 Januari 2006 | 22:17 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri melancarkan kritik kepada Ketua Dewan Pengurus Pusat PDIP, Soetjipto yang dinilainya terlalu tergesa-gesa dalam penetapan target. “Mas Tjip (Sutjipto) saya suruh disiplin malah jadi banteng ketaton,” ujar Mega di depan ratusan pengurus, kader dan simpatisan PDIP yang menghadiri acara malam renungan ulang tahun PDIP ke-33 di kantor pusat PDIP malam ini.

Megawati menggambarkan banteng ketaton itu seperti orang yang mengamuk, membabi buta.

Menurut dia, target pemenangan pemilu 2009 dinilai masih terlalu dini untuk dibicarakan mengingat sekarang baru tahun 2006. Ia juga menyatakan kalau tekanan dalam pencapaian target itu sangat tinggi. “Masa saya disuruh tiwi kromo (mengamuk) terus hingga tahun 2009,” kata Mega sembari guyon.

Kritik terhadap Sutjipto itu juga berkaitan dengan kondisi kader yang Mega istilahkan dengan “baru bangun tidur”.

Dahulu ia dipusingkan dengan kader yang tidak disiplin dan malas, padahal struktur partai sudah bagus. Sekarang, lanjut Mega, kader sudah digembleng dan mulai bergerak kembali.

Berbeda dengan Sutjipto, Sekretaris Jenderal PDIP, Pramono Anung mendapat pujian dari Megawati. Ia dinilai tanggap dengan laporan dan selalu sabar.

Atas kritikan dan pujian itu, baik Sutjipto maupun Pramono menerimanya dengan senyuman.

Reza Maulana

Sumber:
http://www.tempointeraktif.com
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 2.5 Poland License.